![]() |
| B2c Bandung feat #Yuk gowes Eiger Sumber : B2c Bandung |
Hari itu, ketika #Yuk gowes Eiger Setiabudi membuat acara ngabuburide
yang bekerjasama dengan Bike 2 campus Bandung sebagai panitianya, dalam acara
ini saya menjadi bagian keamanan yang salah satu tugasnya adalah mengatur
parkir sepeda supaya rapih dan terpusat disatu tempat. Setelah acara selesai
Abah Saka dari Komunitas Kobragomisbong menghampiri, sambil menyiapkan
sepedanya karena akan pulang, Abah mengajak untuk ikut gowes Bandung – Lombok yang
idenya dibuat oleh Om Hadi dari Ran (Rajawali Adventure No limit). Abah Saka
bilang “ Udah Ikut aja!”. Saat itu saya mengiyakan karena gowesnya dilakukan di
bulan Agustus yang merupakan bulan kelahiran saya dan juga entah kenapa
perkataan Abah Saka waktu itu terdengar menenangkan sekaligus memberanikan
seolah jarak gowes Bandung ke Lombok itu dekat dan tidak ada sesuatu yang harus
dikhawatirkan. Ada kekecewaan juga ketika akhirnya abah Saka tidak ikut,
alasannya ada pekerjaan geothermal di Jambi
dan dikontrak selama 9 bulan. Karena alasan ketidak ikutanya kerena
perkerjaan rasa kecewa itu bisa saya sisihkan dan tetap dengan rencana semula
untuk gowes melintasi Jawa-Bali dan Lombok (JBL).
![]() |
| Sumber : www.pinterest.com |
Saya memang mempunyai keinginan untuk bisa gowes dari
Bandung ke Bali, keinginan ini muncul jauh sebelum saya mempunyai sepeda dan
mengenal komunitas sepeda di kota Bandung. Sekitar tahun 2009, saya tahu sepeda
hanya dari novel Gola gong berjudul "The Journey from Jakarta to Himalaya" yang bercerita tentang perjalanan bersepeda lintas
negara. Walaupun beliau hanya mempunyai satu tangan karena tangan yang satunya
lagi cacat tapi masih bisa bersepeda dari Indonesia melintasi Asia tenggara sampai ke
pinggiran gurun Sahara adalah hal yang luar biasa. Perjalanan bersepeda yang
bagi saya tidak akan bisa saya lakukan dan belum masuk akal karena butuh persiapan
fisik dan mental yang bener-benar prima. Ini seperti dongeng sebelum tidur.
![]() |
| Abah Iwan Abdurahman Sumber : www.abahiwan.com |
Karena saya masuk komunitas penjelajah alam tingkat fakultas
di UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) yaitu Mapad Purpala, KPA Fakultas
Bahasa dan Sastra, dari teman-teman di mapad-lah saya mendengar kalau ada
seseorang yang melakukan gowes dari Bandung ke Bali yaitu abah Iwan Abdurahman.
Bagi saya, sosok abah Iwan ini adalah sosok yang hebat, selain anggota
kehormatan Kopassus, anggota senior di Wanadri juga beliau adalah seorang
penulis lagu dan penyanyi balad yang karya-karyanya sungguh menyentuh kalbu.
Dari cerita tentang gowes abah Iwan inilah saya menyimpan mimpi untuk bisa
gowes dari Bandung ke Bali alasannya karena bersepeda ke Bali sama dengan
bersepeda lintas pulau dan negara, Bali merupakan tempat berkumpulnya
orang-orang dari berbagai negara, ya anggaplah seperti itu. Mimpi ini tetap disimpan walaupun saya tidak
tahu kapan bisa mewujudkanya. Dan di tahun ini tepatnya di bulan Agustus 2016,
Tuhan memberi kesempatan untuk saya bisa mewujudkan mimpi ini. Semoga
perjalanan nanti bisa lancar, selamat, sehat dan tentu saja bermanfaat.
Sebelum kesempatan perjalanan bersepeda ini datang, saya
sempat mencuri dengar dari pembicaraan kang Aki niaki dan kang Wartax
disela-sela pertemuan Sahabat Hutan Bandung, ada perkataan Kang Aki yang
menguatkan hati yang intinya kalau mempunyai niat atau muncul intuisi untuk
melakukan sesuatu walaupun itu diluar kewajaran misalnya lari ultra marathon,
hal tersebut memang harus dilakukan. Untuk perjalan bersepeda dari
Bandung ke Lombok ini akan menempuh jarak sekitar 1800 km ditambah lagi rencana
mendaki gunung Rinjani dengan ketinggian sekitar 3700 mdpl. Tentu saja ini
diluar batas kewajaran karena biasanya petouring sepeda dari Bandung hanya
melakukan touring sepeda saja tanpa mendaki gunung setelahnya.
Ide gowes Jawa Bali Lombok ini pun berkembang ke ide yang
lainnya. Dari mulai konsep dan tujuan acara. Yang semula gowes biasa berkembang
menjadi sebuah expedisi. Sebuah
petualangan, sebuah perjalanan lintas
horizonal dan Vertikal.
Expedisi JBL ini dilakukan di bulan Agustus karena ingin
mengisi dan merayakan bulan kemerdekaan Republik Indonesia dengan sesuatu yang
merupakan passion kami, yaitu bersepeda untuk perjalan lintas horizontal-nya dan
naik gunung sebagai perjalanan lintas vertikalnya. Ini akan menjadi sebuah
perjalanan napak tilas yang menyusuri jalur ke timur Jawa karena di sana ada Surabaya sebagai kota Pahlawan dan Blitar sebagai awal mula pemberontakan PETA (Tentara sukarela PEmbela Tanah Air) untuk meraih kemerdekaan.
| Puncak Anjani, Gunung Rinjani Sumber : ilhamarch.blogspot.com |
Mengapa kami memilih jalur ke timur? Tentu saja karena kota
pahlawan ada di timur begitu juga tempat kelahiran presiden pertama Indonesia
yaitu Soekarno yang lahir di Bali dan dimakamkan di Blitar. Selain itu gunung Rinjani adalah
gunung tertinggi ke-3 di Indonesia setelah Puncak Cartenz dan Gunung Kerinci.
Moment puncak untuk kegiatan ini adalah menancapkan merah Putih di Puncak
Anjani, Nama puncak dari gunung Rinjani. Kami akan mengambil rute dari Sembalun
dan pulang ke Sembalun juga. Dari informasi yang di dapat dari teman yang telah
melakukan pendakian di gunung Rinjani, perjalanan dari pintu masuk sampai
puncak sekitar 12 jam pendakian, itu sudah terhitung santai. Dalam bayangan
saya, waktu tempuh itu sama seperti pendakian gunung Ceremai melalui pos
Linggarjati yang pernah saya lakukan sebelumnya dan waktu itu saya melaluinya
dengan cukup baik.
Bagi saya Perjalanan ini bukanlah sebuah perjalanan yang
mencari kebanggaan semata, tapi lebih dari itu, perjalanan ini adalah sebuah
perjalanan yang menunjukan rasa syukur
saya atas kelahiran saya di Bulan Agustus dan juga untuk kemerdekaan Indonesia
di bulan yang sama. Walaupun kita tahu kalau Indonesia belum merdeka sepenuhnya.
![]() |
| Cover film 5 cm. Sumber : 3.bp.blogspot.com |
Nama kegiatan ini adalah expedisi Jawa Bali Lombok tapi saya
tidak mau menyebutnya sebuah expedisi karena sebuah expedisi selain tertib
administrasi juga terencana dengan baik. Bisa dibilang perjalanan ini cukup
prematur bagi saya karena tidak seperti expedisi yang pernah saya jalani
sebelumnya dimana saya harus membuat ROP (Rencana Operasional), list budjet,
list perbekalan dan lain-lain seperti yang pernah saya pelajari di Mapad.
Terlintas dalam benak saya kalau ini adalah '5 cm.' versi bersepeda dan naik
gunung. Mengapa seperti itu? Karena '5 cm.' adalah perjalanan naik gunung tanpa
latihan fisik sebelumnya, tanpa bekal pengetahuan tentang naik gunung dan tentu
saja, semuanya dilakukan mendadak dan dengan bekal seadanya. Begitupun dengan
perjalanan ini, setelah pertemuan ketika bulan Ramadhan di Eiger Setiabudi,
saya kembali bertemu dengan Om Hadi dan bu Tuti setelah lebaran lalu
diperkenalkan ke Ridwan Fadhillah, seorang mahasiswa perfilman yang baru lulus
dan ingin membuat film dokumentasi tentang touring sepeda tandem om Hadi dan Bu Tuti. Lalu berkumpulah kami berempat dan mulai berkoordinasi. Saya sendiri
mulai terlibat secara langsung untuk Pra-kegiatan ini sekitar 2 minggu sebelum
keberangkatan. Di dalam kepala tetap terlintas '5 cm.' Lalu ide berikutnya muncul
ketika saya googling tentang jalur atau rute bersepeda dari Bandung sampai ke
Bali, Kenapa tidak ada catatan perjalanannya? Ada sih yang buat catatan perjalanan tapi belum ada yang buat catatan perjalanan dengan alokasi budjet yang ripuh padahal banyak sekali pesepeda
Bandung yang melintasi Jawa Baik itu lewat jalur utara, jalur tengah, jalur
selatan atau bahkan mencoba rute alternatif. Dari pengalaman itulah akhirnya
saya mempunyai ide untuk membuat catatan perjalanan bersepeda dari Bandung ke
Bali melintas pulau Jawa. Di catatan perjalanan tersebut akan dibahas perhari
secara detail meliputi jalur/rute, jarak yang dilalui, waktu tempuh, komunitas
atau orang yang bisa ditemui dan tentu saja kejadian yang menimpa kami pun akan
saya dokumentasikan dalam bentuk tulisan dan foto sehingga ketika seseorang
butuh referensi tentang touring lintas Jawa-Bali, dia akan mendapatkan cukup
pengetahuan tentang jalur yang pernah kami lintasi. Ini adalah semangat berbagi
dan suatu hari karena info perjalanan touring mudah di dapat akan banyak orang
melakukan touring sepeda.
![]() |
| Abah Landung Sumber : forum.liputan6.com |
Kalau berbicara tentang melakukan perjalanan dengan bersepeda, saya juga jadi teringat dengan sosok abah Landung. Seseorang yang sudah berusia 90 tahun
tapi masih sehat dan aktif bersepeda. Abah landung ini sudah melakukan
perjalanan bersepeda antar pulau sampai ke Bali dan Aceh ketika tsunami Aceh
melanda juga melakukan gowes sampai Mekkah untuk menunaikan ibadah Haji yang
beliau sempat lakukan selama 7 bulan diperjalanan. Jadi kami masih jauh kalah
dari abah Landung ini. Hanya saja Abah Landung tidak pernah mempublikasikan
tentang kegiatan bersepedanya tapi dari liputan yang pernah saya lihat di NHK, tv
nasional Jepang, membuktikan kalau abah Landung ini bukan orang biasa yang
melakukan perjalan sepeda tanpa pengetahuan yang mumpuni, pasti ada rahasia
dibalik itu yang tidak saya ketahui. Mari kita belajar ke abah Landung dan
mengetahui pengalaman hidupnya yang dapat memberi kita inspirasi mengenai
keikhlasan dan kesabaran dalam menjalani hidup ini. Profil diri seseorang
apabila sudah diliput oleh media luar bukan sembarang orang. Abah Landung ini
ternyata mempunyai kemampuan menyembuhkan seseorang melalui pijat normalisasi
dan trauma healing. Makanya ketika terjadi tsunami Aceh, Abah diberitakan
menyembuhkan lebih dari 6.000 orang yang menjadi korban akibat hempasan
tsunami, baik itu luka secara fisik maupun trauma psikologis yang diderita.
Karena usia yang bertambah dan sudah tidak muda lagi, abah berharap akan ada
penerus baik itu dalam hal bersepeda jauh (touring) maupun dalam hal
penyembuhan melalui pijat normalisasi dan trauma healingnya. Untuk bisa berkunjung
ke abah Landung bisa di temui di rumahnya di Jalan Libra III daerah Turangga
atau di kantornya di sekitar jalan Riau dekat dekat taman Pramuka, untuk nomor
rumah dan kantor, saya tidak tahu.. hehe..
Ada kutipan dari buku The 7 Habits of Highly Effective people
yang dikarang oleh Steven Covey, “ The Best way to learn something is to teach
it.” Dari kutipan ini, memberi saya pemahaman kalau membagi informasi tentang
touring sepeda bukan berarti saya adalah seorang petouring sepeda yang handal
dengan jam terbang tinggi tapi lebih kepada saya sedang belajar mengenai
touring sepeda, bagaimana manajeman perjalanan, safety procedure dan lain-lain.
Jadi, Let’s Learn together....




