Sepeda bekas seharga Rp. 500.000an. Itu adalah harga dari
kedua sepeda yang saya pakai baik untuk bersepeda di dalam kota maupun touring.
Tidak perlu sepeda yang mahal dengan komponen yang wah untuk memulai sebuah
petualangan.
![]() |
| Gunung Puntang |
Sepeda dengan ukuran Crank 48-38-28 dan 7 speed ini
dilengkapi dengan Cassete Mega range 11T-34T cukup ampuh untuk melahap tanjakan
yang tidak begitu curam walaupun saat-saat awal begitu susah mengayuhnya karena
belum terbiasa bersepeda dan belum mempunyai ritme kayuhan sendiri.
![]() |
| Jalan Raya Bandung Cianjur |
Bersepeda jarak jauh
yang ditempuh untuk pertama kalinya adalah ke Cianjur, Berangkat dari Bandung
jam 2 siang bersama teman-teman dari B2C Bandung. Saat itu ada event Charity Run yang meminta kami untuk menjadi Marshall dari Cianjur sampai ke garis
finish di Bandung. Karena ini bukan
sebuah lomba dan lebih kepada kegiatan amalan dan lari santai maka memberanikan
diri untuk ikut serta menjadi Marshall walaupun tidak mempunyai pengalaman
sebagai Marshall sebelumnya. Cuaca di akhir tahun 2014 saat itu cukup tinggi
untuk intensitas hujannya, perjalanan malam yang kami lalui dari Bandung ke
Cianjur dilanjutkan dengan kondisi hujan deras. Perjalanan malam yang
menantang. Tapi yang kami tahu pasti, Safety first dan apabila gowes terus
nanti juga sampai di tempat tujuan yaitu rumah Aditya, salah satu teman kami di
Cianjur.
![]() |
| Pantai Pangandaran |
Pada akhir bulan Desember 2014, bike touring dilanjutkan
dengan tujuan Pangandaran dan Batu karas. Ini merupakan rute terpanjang yang
pertama saya lalui cukup membuat mental ragu karena sakit di lutut kanan akibat
mengayuh di tanjakan dengan gigi besar. Kesalahan yang dilakukan oleh pemula
yang memaksakan kaki untuk terus mengayuh sekuat tenaga padahal gigi masih bisa
dialihkan ke yang ringan. Bike touring ini melibatkan cukup banyak peserta baik
itu dari FBI (Federalist Bandung Indonesia) dan juga B2C Bandung. Rencana
semula, kami akan menginap di PMI Banjar, akan tetapi perjalanan ke Arah banjar
ini menjadi perjalanan tersulit yang pernah saya lalui. Kondisi kaki kram
sehingga kayuhan tidak maksimal, panas matahari yang menyengat karena belum
terbiasa dan juga banyaknya Bis dan kendaraan besar lainnya yang menyita badan
jalan sehingga kami harus super hati-hati, mengalah atau kami akan terserempet
dan jatuh. Karena kami tidak bisa mencapai Banjar akhirnya diputuskan untuk
menginap di Tasik di rumahnya Tante Riri, salah satu peserta dari FBI. Setelah
lelah terkena hujan dan terik matahari lalu menyantap nasi tutug oncom dan
mandi air panas, nikmatnya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. It’s like
little heaven.
Perjalanan berikutnya
terasa lebih ringan karena sakit kram di kaki sudah diobati oleh Dokter Ronny
yang saat itu ikut juga ikut sebagai peserta, tapi karena kami berbeda
rombongan akhirnya baru bisa bertemu di Tasik. Jarak dari Tasik ke Pangandaran
kami lalui dengan santai atau biasa kami sebut “gowes geboy”. Mungkin istilah
ini muncul karena kami mengayuh sepeda perlahan tapi tetap menawan untuk
dilihat, sama seperti geboy seorang biduan dangdut.
![]() |
| Canggu, Bali |
Selain untuk touring
sepeda United Avalanche ini juga dipakai sebagai sarana transportasi ke tempat
kerja, kita sebut saja Bike to work. Awal Tahun 2015, saya berkesempatan untuk
kerja di Bali dan sepeda ini pun ikut serta ke sana karena memang di bali
sedikit sarana transportasi umum jadi pilihannya pasti jatuh kepada membawa
alat transportasi sendiri. Kondisi Bali yang dekat dengan pantai sehingga
tanjakan pun sedikit saya temui, cukup mudah untuk bersepeda di sini. Akan
tetapi, sedikit orang menggunakan sepeda, masih dianggapnya sebagai sarana
transportasi no. 2, tidak praktis dan cape. Jadi saya lebih banyak melihat
sepeda digunakan oleh siswa yang pergi sekolah dengan jarak yang tidak
jauh. Cukup menantang juga untuk
berkeliling pulau Bali dengan sepeda, akan saya lakukan nanti tapi untuk saat
itu, saya terpaksa harus balik dulu ke Bandung karena keadaan kesehatan yang
tidak baik.
Minat dan kesenangan terhadap sepeda semakin menjadi ketika
kembali ke Bandung, tentu saja karena di sini gudangnya komunitas sepeda dan
bersepeda menjadi trend tersendiri. Bahkan di satu acara Bike 2 Boseh yang
diadakan oleh salah satu harian surat kabar, pesertanya bisa mencapai 3000
orang dari semula yang di prediksikan
2000 orang peserta.
Sepeda Federal itu
adalah sebuah racun, dan racun itu ditularkan dengan sangat ampuh dengan
mengajak gowes bareng dan mencicil sepeda.
Orang tidak akan sadar kalau dengan mencicil hal yang berat pun terasa
mudah. Dan itulah yang dilakukan oleh kang Aan, seorang teman dari komunitas
sepeda Federal Cijerah. Dengan baiknya menawarkan untuk saya sebuah Sepeda
Federal Wild Cat dengan kondisi mulus dengan harga Rp. 550.000, dan bisa
dicicil 2x. Saya pun menerima tawaran itu dan tentu saja, saya sedang
beruntung.
Karena Federal Wild Cat ini masih menggunakan komponen
aslinya dengan 6 Speed dan Shifter yang tidak ada nomornya, model lama.
Akhirnya saya putuskan untuk memutilasi sepeda United dengan mengalihkan Group
set dan Wheel set ke sepeda Federal. Pilihan yang bagus saat itu karena saya
belum bisa membangun sepeda Federal dengan komponen yang baru tapi sudah ingin
menungganginya. Komponen baru yang diganti adalah Crank dari semula Crank Sakae
48-38-28 diganti dengan Shimano 400CX hiperdrive 42-32-20 juga sadel diganti dengan
yang lebih empuk berbahan gel padat dengan Merk DB.
![]() |
| Tanjakan Mahdi, Bandung Photo by Bayu Wahyudi |
Federal Wild Cat yang
dibeli di bulan Agustus 2015 ini memang belum dibawa jauh, masih bermain di
dalam kota. Tetapi sudah teruji untuk melintasi tanjakan, salah satunya
tanjakan Mahdi, tanjakan curam di utara kota Bandung. Walaupun saat itu ada
sesi dorong sepeda tapi hampir sebagian besar rute di tanjakan Mahdi dapat
dilalui dengan baik. Begitu pula ketika mengayuh sepeda ke arah Cikole Lembang.
Apapun sepedanya, berapapun harganya tidak akan berarti
kalau tidak digowes.
Memulai petualangan tidak harus mahal. Tapi libatkan
keberuntungan, keinginan dan aksi.





