Selasa, 10 November 2015

Memulai Petualangan dengan sepeda seharga 500 ribu

Sepeda bekas seharga Rp. 500.000an. Itu adalah harga dari kedua sepeda yang saya pakai baik untuk bersepeda di dalam kota maupun touring. Tidak perlu sepeda yang mahal dengan komponen yang wah untuk memulai sebuah petualangan.

Gunung Puntang
Tahun 2014 adalah awal mulanya saya membeli United Avalanche XC72 dari seorang teman, kondisi sepeda saat itu masih layak jalan tapi karena anting RD patah dan velg harus disetel lagi maka dia pun memberi harga yang cukup miring yaitu Rp. 500.000.

Sepeda dengan ukuran Crank 48-38-28 dan 7 speed ini dilengkapi dengan Cassete Mega range 11T-34T cukup ampuh untuk melahap tanjakan yang tidak begitu curam walaupun saat-saat awal begitu susah mengayuhnya karena belum terbiasa bersepeda dan belum mempunyai ritme kayuhan sendiri.

Jalan Raya Bandung Cianjur
Bersepeda jarak jauh yang ditempuh untuk pertama kalinya adalah ke Cianjur, Berangkat dari Bandung jam 2 siang bersama teman-teman dari B2C Bandung. Saat itu ada event Charity Run yang meminta kami untuk menjadi Marshall dari Cianjur sampai ke garis finish di Bandung.  Karena ini bukan sebuah lomba dan lebih kepada kegiatan amalan dan lari santai maka memberanikan diri untuk ikut serta menjadi Marshall walaupun tidak mempunyai pengalaman sebagai Marshall sebelumnya. Cuaca di akhir tahun 2014 saat itu cukup tinggi untuk intensitas hujannya, perjalanan malam yang kami lalui dari Bandung ke Cianjur dilanjutkan dengan kondisi hujan deras. Perjalanan malam yang menantang. Tapi yang kami tahu pasti, Safety first dan apabila gowes terus nanti juga sampai di tempat tujuan yaitu rumah Aditya, salah satu teman kami di Cianjur.

Pantai Pangandaran
Pada akhir bulan Desember 2014, bike touring dilanjutkan dengan tujuan Pangandaran dan Batu karas. Ini merupakan rute terpanjang yang pertama saya lalui cukup membuat mental ragu karena sakit di lutut kanan akibat mengayuh di tanjakan dengan gigi besar. Kesalahan yang dilakukan oleh pemula yang memaksakan kaki untuk terus mengayuh sekuat tenaga padahal gigi masih bisa dialihkan ke yang ringan. Bike touring ini melibatkan cukup banyak peserta baik itu dari FBI (Federalist Bandung Indonesia) dan juga B2C Bandung. Rencana semula, kami akan menginap di PMI Banjar, akan tetapi perjalanan ke Arah banjar ini menjadi perjalanan tersulit yang pernah saya lalui. Kondisi kaki kram sehingga kayuhan tidak maksimal, panas matahari yang menyengat karena belum terbiasa dan juga banyaknya Bis dan kendaraan besar lainnya yang menyita badan jalan sehingga kami harus super hati-hati, mengalah atau kami akan terserempet dan jatuh. Karena kami tidak bisa mencapai Banjar akhirnya diputuskan untuk menginap di Tasik di rumahnya Tante Riri, salah satu peserta dari FBI. Setelah lelah terkena hujan dan terik matahari lalu menyantap nasi tutug oncom dan mandi air panas, nikmatnya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. It’s like little heaven.

Perjalanan berikutnya terasa lebih ringan karena sakit kram di kaki sudah diobati oleh Dokter Ronny yang saat itu ikut juga ikut sebagai peserta, tapi karena kami berbeda rombongan akhirnya baru bisa bertemu di Tasik. Jarak dari Tasik ke Pangandaran kami lalui dengan santai atau biasa kami sebut “gowes geboy”. Mungkin istilah ini muncul karena kami mengayuh sepeda perlahan tapi tetap menawan untuk dilihat, sama seperti geboy seorang biduan dangdut.

Canggu, Bali
Selain untuk touring sepeda United Avalanche ini juga dipakai sebagai sarana transportasi ke tempat kerja, kita sebut saja Bike to work. Awal Tahun 2015, saya berkesempatan untuk kerja di Bali dan sepeda ini pun ikut serta ke sana karena memang di bali sedikit sarana transportasi umum jadi pilihannya pasti jatuh kepada membawa alat transportasi sendiri. Kondisi Bali yang dekat dengan pantai sehingga tanjakan pun sedikit saya temui, cukup mudah untuk bersepeda di sini. Akan tetapi, sedikit orang menggunakan sepeda, masih dianggapnya sebagai sarana transportasi no. 2, tidak praktis dan cape. Jadi saya lebih banyak melihat sepeda digunakan oleh siswa yang pergi sekolah dengan jarak yang tidak jauh.  Cukup menantang juga untuk berkeliling pulau Bali dengan sepeda, akan saya lakukan nanti tapi untuk saat itu, saya terpaksa harus balik dulu ke Bandung karena keadaan kesehatan yang tidak baik. 

Minat dan kesenangan terhadap sepeda semakin menjadi ketika kembali ke Bandung, tentu saja karena di sini gudangnya komunitas sepeda dan bersepeda menjadi trend tersendiri. Bahkan di satu acara Bike 2 Boseh yang diadakan oleh salah satu harian surat kabar, pesertanya bisa mencapai 3000 orang  dari semula yang di prediksikan 2000 orang peserta.

Sepeda Federal itu adalah sebuah racun, dan racun itu ditularkan dengan sangat ampuh dengan mengajak gowes bareng dan mencicil sepeda.  Orang tidak akan sadar kalau dengan mencicil hal yang berat pun terasa mudah. Dan itulah yang dilakukan oleh kang Aan, seorang teman dari komunitas sepeda Federal Cijerah. Dengan baiknya menawarkan untuk saya sebuah Sepeda Federal Wild Cat dengan kondisi mulus dengan harga Rp. 550.000, dan bisa dicicil 2x. Saya pun menerima tawaran itu dan tentu saja, saya sedang beruntung. 

Karena Federal Wild Cat ini masih menggunakan komponen aslinya dengan 6 Speed dan Shifter yang tidak ada nomornya, model lama. Akhirnya saya putuskan untuk memutilasi sepeda United dengan mengalihkan Group set dan Wheel set ke sepeda Federal. Pilihan yang bagus saat itu karena saya belum bisa membangun sepeda Federal dengan komponen yang baru tapi sudah ingin menungganginya. Komponen baru yang diganti adalah Crank dari semula Crank Sakae 48-38-28 diganti dengan Shimano 400CX hiperdrive 42-32-20 juga sadel diganti dengan yang lebih empuk berbahan gel padat dengan Merk DB. 

Tanjakan Mahdi, Bandung
Photo by Bayu Wahyudi
Federal Wild Cat yang dibeli di bulan Agustus 2015 ini memang belum dibawa jauh, masih bermain di dalam kota. Tetapi sudah teruji untuk melintasi tanjakan, salah satunya tanjakan Mahdi, tanjakan curam di utara kota Bandung. Walaupun saat itu ada sesi dorong sepeda tapi hampir sebagian besar rute di tanjakan Mahdi dapat dilalui dengan baik. Begitu pula ketika mengayuh sepeda ke arah Cikole Lembang.

Apapun sepedanya, berapapun harganya tidak akan berarti kalau tidak digowes. 

Memulai petualangan tidak harus mahal. Tapi libatkan keberuntungan, keinginan dan aksi.