Minggu, 14 Agustus 2016

Catatan Pra-Perjalanan bersepeda Bandung - Lombok Part 1

B2c Bandung feat #Yuk gowes Eiger
Sumber : B2c Bandung
Hari itu, ketika #Yuk gowes Eiger Setiabudi membuat acara ngabuburide yang bekerjasama dengan Bike 2 campus Bandung sebagai panitianya, dalam acara ini saya menjadi bagian keamanan yang salah satu tugasnya adalah mengatur parkir sepeda supaya rapih dan terpusat disatu tempat. Setelah acara selesai Abah Saka dari Komunitas Kobragomisbong menghampiri, sambil menyiapkan sepedanya karena akan pulang, Abah mengajak untuk ikut gowes Bandung – Lombok yang idenya dibuat oleh Om Hadi dari Ran (Rajawali Adventure No limit). Abah Saka bilang “ Udah Ikut aja!”. Saat itu saya mengiyakan karena gowesnya dilakukan di bulan Agustus yang merupakan bulan kelahiran saya dan juga entah kenapa perkataan Abah Saka waktu itu terdengar menenangkan sekaligus memberanikan seolah jarak gowes Bandung ke Lombok itu dekat dan tidak ada sesuatu yang harus dikhawatirkan. Ada kekecewaan juga ketika akhirnya abah Saka tidak ikut, alasannya ada pekerjaan geothermal di Jambi  dan dikontrak selama 9 bulan. Karena alasan ketidak ikutanya kerena perkerjaan rasa kecewa itu bisa saya sisihkan dan tetap dengan rencana semula untuk gowes melintasi Jawa-Bali dan Lombok (JBL).

Sumber : www.pinterest.com
Saya memang mempunyai keinginan untuk bisa gowes dari Bandung ke Bali, keinginan ini muncul jauh sebelum saya mempunyai sepeda dan mengenal komunitas sepeda di kota Bandung. Sekitar tahun 2009, saya tahu sepeda hanya dari novel Gola gong berjudul "The Journey from Jakarta to Himalaya" yang bercerita tentang perjalanan bersepeda lintas negara. Walaupun beliau hanya mempunyai satu tangan karena tangan yang satunya lagi cacat tapi masih bisa bersepeda dari Indonesia melintasi Asia tenggara sampai ke pinggiran gurun Sahara adalah hal yang luar biasa. Perjalanan bersepeda yang bagi saya tidak akan bisa saya lakukan dan belum masuk akal karena butuh persiapan fisik dan mental yang bener-benar prima. Ini seperti dongeng sebelum tidur.


Abah Iwan Abdurahman
Sumber : www.abahiwan.com
Karena saya masuk komunitas penjelajah alam tingkat fakultas di UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) yaitu Mapad Purpala, KPA Fakultas Bahasa dan Sastra, dari teman-teman di mapad-lah saya mendengar kalau ada seseorang yang melakukan gowes dari Bandung ke Bali yaitu abah Iwan Abdurahman. Bagi saya, sosok abah Iwan ini adalah sosok yang hebat, selain anggota kehormatan Kopassus, anggota senior di Wanadri juga beliau adalah seorang penulis lagu dan penyanyi balad yang karya-karyanya sungguh menyentuh kalbu. Dari cerita tentang gowes abah Iwan inilah saya menyimpan mimpi untuk bisa gowes dari Bandung ke Bali alasannya karena bersepeda ke Bali sama dengan bersepeda lintas pulau dan negara, Bali merupakan tempat berkumpulnya orang-orang dari berbagai negara, ya anggaplah seperti itu. Mimpi ini tetap disimpan walaupun saya tidak tahu kapan bisa mewujudkanya. Dan di tahun ini tepatnya di bulan Agustus 2016, Tuhan memberi kesempatan untuk saya bisa mewujudkan mimpi ini. Semoga perjalanan nanti bisa lancar, selamat, sehat dan tentu saja bermanfaat.

Sebelum kesempatan perjalanan bersepeda ini datang, saya sempat mencuri dengar dari pembicaraan kang Aki niaki dan kang Wartax disela-sela pertemuan Sahabat Hutan Bandung, ada perkataan Kang Aki yang menguatkan hati yang intinya kalau mempunyai niat atau muncul intuisi untuk melakukan sesuatu walaupun itu diluar kewajaran misalnya lari ultra marathon, hal tersebut memang harus dilakukan. Untuk perjalan bersepeda dari Bandung ke Lombok ini akan menempuh jarak sekitar 1800 km ditambah lagi rencana mendaki gunung Rinjani dengan ketinggian sekitar 3700 mdpl. Tentu saja ini diluar batas kewajaran karena biasanya petouring sepeda dari Bandung hanya melakukan touring sepeda saja tanpa mendaki gunung setelahnya.

Ide gowes Jawa Bali Lombok ini pun berkembang ke ide yang lainnya. Dari mulai konsep dan tujuan acara. Yang semula gowes biasa berkembang menjadi sebuah expedisi.  Sebuah petualangan, sebuah perjalanan  lintas horizonal dan Vertikal.

Expedisi JBL ini dilakukan di bulan Agustus karena ingin mengisi dan merayakan bulan kemerdekaan Republik Indonesia dengan sesuatu yang merupakan passion kami, yaitu bersepeda untuk perjalan lintas horizontal-nya dan naik gunung sebagai perjalanan lintas vertikalnya. Ini akan menjadi sebuah perjalanan napak tilas yang menyusuri jalur ke timur Jawa karena di sana ada Surabaya sebagai kota Pahlawan dan Blitar sebagai awal mula pemberontakan PETA (Tentara sukarela PEmbela Tanah Air) untuk meraih kemerdekaan.

Puncak Anjani, Gunung Rinjani
Sumber : ilhamarch.blogspot.com
Mengapa kami memilih jalur ke timur? Tentu saja karena kota pahlawan ada di timur begitu juga tempat kelahiran presiden pertama Indonesia yaitu Soekarno yang lahir di Bali dan dimakamkan  di Blitar. Selain itu gunung Rinjani adalah gunung tertinggi ke-3 di Indonesia setelah Puncak Cartenz dan Gunung Kerinci. Moment puncak untuk kegiatan ini adalah menancapkan merah Putih di Puncak Anjani, Nama puncak dari gunung Rinjani. Kami akan mengambil rute dari Sembalun dan pulang ke Sembalun juga. Dari informasi yang di dapat dari teman yang telah melakukan pendakian di gunung Rinjani, perjalanan dari pintu masuk sampai puncak sekitar 12 jam pendakian, itu sudah terhitung santai. Dalam bayangan saya, waktu tempuh itu sama seperti pendakian gunung Ceremai melalui pos Linggarjati yang pernah saya lakukan sebelumnya dan waktu itu saya melaluinya dengan cukup baik.

Bagi saya Perjalanan ini bukanlah sebuah perjalanan yang mencari kebanggaan semata, tapi lebih dari itu, perjalanan ini adalah sebuah perjalanan yang  menunjukan rasa syukur saya atas kelahiran saya di Bulan Agustus dan juga untuk kemerdekaan Indonesia di bulan yang sama. Walaupun kita tahu kalau Indonesia belum merdeka sepenuhnya.

Cover film 5 cm.
Sumber : 3.bp.blogspot.com
Nama kegiatan ini adalah expedisi Jawa Bali Lombok tapi saya tidak mau menyebutnya sebuah expedisi karena sebuah expedisi selain tertib administrasi juga terencana dengan baik. Bisa dibilang perjalanan ini cukup prematur bagi saya karena tidak seperti expedisi yang pernah saya jalani sebelumnya dimana saya harus membuat ROP (Rencana Operasional), list budjet, list perbekalan dan lain-lain seperti yang pernah saya pelajari di Mapad. Terlintas dalam benak saya kalau ini adalah '5 cm.' versi bersepeda dan naik gunung. Mengapa seperti itu? Karena '5 cm.' adalah perjalanan naik gunung tanpa latihan fisik sebelumnya, tanpa bekal pengetahuan tentang naik gunung dan tentu saja, semuanya dilakukan mendadak dan dengan bekal seadanya. Begitupun dengan perjalanan ini, setelah pertemuan ketika bulan Ramadhan di Eiger Setiabudi, saya kembali bertemu dengan Om Hadi dan bu Tuti setelah lebaran lalu diperkenalkan ke Ridwan Fadhillah, seorang mahasiswa perfilman yang baru lulus dan ingin membuat film dokumentasi tentang touring sepeda tandem om Hadi dan Bu Tuti. Lalu berkumpulah kami berempat dan mulai berkoordinasi. Saya sendiri mulai terlibat secara langsung untuk Pra-kegiatan ini sekitar 2 minggu sebelum keberangkatan. Di dalam kepala tetap terlintas '5 cm.' Lalu ide berikutnya muncul ketika saya googling tentang jalur atau rute bersepeda dari Bandung sampai ke Bali, Kenapa tidak ada catatan perjalanannya? Ada sih yang buat catatan perjalanan tapi belum ada yang buat catatan perjalanan dengan alokasi budjet yang ripuh padahal banyak sekali pesepeda Bandung yang melintasi Jawa Baik itu lewat jalur utara, jalur tengah, jalur selatan atau bahkan mencoba rute alternatif. Dari pengalaman itulah akhirnya saya mempunyai ide untuk membuat catatan perjalanan bersepeda dari Bandung ke Bali melintas pulau Jawa. Di catatan perjalanan tersebut akan dibahas perhari secara detail meliputi jalur/rute, jarak yang dilalui, waktu tempuh, komunitas atau orang yang bisa ditemui dan tentu saja kejadian yang menimpa kami pun akan saya dokumentasikan dalam bentuk tulisan dan foto sehingga ketika seseorang butuh referensi tentang touring lintas Jawa-Bali, dia akan mendapatkan cukup pengetahuan tentang jalur yang pernah kami lintasi. Ini adalah semangat berbagi dan suatu hari karena info perjalanan touring mudah di dapat akan banyak orang melakukan touring sepeda.

Abah Landung
Sumber : forum.liputan6.com
Kalau berbicara tentang melakukan perjalanan dengan bersepeda, saya juga jadi teringat dengan sosok abah Landung. Seseorang yang sudah berusia 90 tahun tapi masih sehat dan aktif bersepeda. Abah landung ini sudah melakukan perjalanan bersepeda antar pulau sampai ke Bali dan Aceh ketika tsunami Aceh melanda juga melakukan gowes sampai Mekkah untuk menunaikan ibadah Haji yang beliau sempat lakukan selama 7 bulan diperjalanan. Jadi kami masih jauh kalah dari abah Landung ini. Hanya saja Abah Landung tidak pernah mempublikasikan tentang kegiatan bersepedanya tapi dari liputan yang pernah saya lihat di NHK, tv nasional Jepang, membuktikan kalau abah Landung ini bukan orang biasa yang melakukan perjalan sepeda tanpa pengetahuan yang mumpuni, pasti ada rahasia dibalik itu yang tidak saya ketahui. Mari kita belajar ke abah Landung dan mengetahui pengalaman hidupnya yang dapat memberi kita inspirasi mengenai keikhlasan dan kesabaran dalam menjalani hidup ini. Profil diri seseorang apabila sudah diliput oleh media luar bukan sembarang orang. Abah Landung ini ternyata mempunyai kemampuan menyembuhkan seseorang melalui pijat normalisasi dan trauma healing. Makanya ketika terjadi tsunami Aceh, Abah diberitakan menyembuhkan lebih dari 6.000 orang yang menjadi korban akibat hempasan tsunami, baik itu luka secara fisik maupun trauma psikologis yang diderita. Karena usia yang bertambah dan sudah tidak muda lagi, abah berharap akan ada penerus baik itu dalam hal bersepeda jauh (touring) maupun dalam hal penyembuhan melalui pijat normalisasi dan trauma healingnya. Untuk bisa berkunjung ke abah Landung bisa di temui di rumahnya di Jalan Libra III daerah Turangga atau di kantornya di sekitar jalan Riau dekat dekat taman Pramuka, untuk nomor rumah dan kantor, saya tidak tahu.. hehe..

Ada kutipan dari buku The 7 Habits of Highly Effective people yang dikarang oleh Steven Covey, “ The Best way to learn something is to teach it.” Dari kutipan ini, memberi saya pemahaman kalau membagi informasi tentang touring sepeda bukan berarti saya adalah seorang petouring sepeda yang handal dengan jam terbang tinggi tapi lebih kepada saya sedang belajar mengenai touring sepeda, bagaimana manajeman perjalanan, safety procedure dan lain-lain. Jadi, Let’s Learn together....


Selasa, 10 November 2015

Memulai Petualangan dengan sepeda seharga 500 ribu

Sepeda bekas seharga Rp. 500.000an. Itu adalah harga dari kedua sepeda yang saya pakai baik untuk bersepeda di dalam kota maupun touring. Tidak perlu sepeda yang mahal dengan komponen yang wah untuk memulai sebuah petualangan.

Gunung Puntang
Tahun 2014 adalah awal mulanya saya membeli United Avalanche XC72 dari seorang teman, kondisi sepeda saat itu masih layak jalan tapi karena anting RD patah dan velg harus disetel lagi maka dia pun memberi harga yang cukup miring yaitu Rp. 500.000.

Sepeda dengan ukuran Crank 48-38-28 dan 7 speed ini dilengkapi dengan Cassete Mega range 11T-34T cukup ampuh untuk melahap tanjakan yang tidak begitu curam walaupun saat-saat awal begitu susah mengayuhnya karena belum terbiasa bersepeda dan belum mempunyai ritme kayuhan sendiri.

Jalan Raya Bandung Cianjur
Bersepeda jarak jauh yang ditempuh untuk pertama kalinya adalah ke Cianjur, Berangkat dari Bandung jam 2 siang bersama teman-teman dari B2C Bandung. Saat itu ada event Charity Run yang meminta kami untuk menjadi Marshall dari Cianjur sampai ke garis finish di Bandung.  Karena ini bukan sebuah lomba dan lebih kepada kegiatan amalan dan lari santai maka memberanikan diri untuk ikut serta menjadi Marshall walaupun tidak mempunyai pengalaman sebagai Marshall sebelumnya. Cuaca di akhir tahun 2014 saat itu cukup tinggi untuk intensitas hujannya, perjalanan malam yang kami lalui dari Bandung ke Cianjur dilanjutkan dengan kondisi hujan deras. Perjalanan malam yang menantang. Tapi yang kami tahu pasti, Safety first dan apabila gowes terus nanti juga sampai di tempat tujuan yaitu rumah Aditya, salah satu teman kami di Cianjur.

Pantai Pangandaran
Pada akhir bulan Desember 2014, bike touring dilanjutkan dengan tujuan Pangandaran dan Batu karas. Ini merupakan rute terpanjang yang pertama saya lalui cukup membuat mental ragu karena sakit di lutut kanan akibat mengayuh di tanjakan dengan gigi besar. Kesalahan yang dilakukan oleh pemula yang memaksakan kaki untuk terus mengayuh sekuat tenaga padahal gigi masih bisa dialihkan ke yang ringan. Bike touring ini melibatkan cukup banyak peserta baik itu dari FBI (Federalist Bandung Indonesia) dan juga B2C Bandung. Rencana semula, kami akan menginap di PMI Banjar, akan tetapi perjalanan ke Arah banjar ini menjadi perjalanan tersulit yang pernah saya lalui. Kondisi kaki kram sehingga kayuhan tidak maksimal, panas matahari yang menyengat karena belum terbiasa dan juga banyaknya Bis dan kendaraan besar lainnya yang menyita badan jalan sehingga kami harus super hati-hati, mengalah atau kami akan terserempet dan jatuh. Karena kami tidak bisa mencapai Banjar akhirnya diputuskan untuk menginap di Tasik di rumahnya Tante Riri, salah satu peserta dari FBI. Setelah lelah terkena hujan dan terik matahari lalu menyantap nasi tutug oncom dan mandi air panas, nikmatnya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. It’s like little heaven.

Perjalanan berikutnya terasa lebih ringan karena sakit kram di kaki sudah diobati oleh Dokter Ronny yang saat itu ikut juga ikut sebagai peserta, tapi karena kami berbeda rombongan akhirnya baru bisa bertemu di Tasik. Jarak dari Tasik ke Pangandaran kami lalui dengan santai atau biasa kami sebut “gowes geboy”. Mungkin istilah ini muncul karena kami mengayuh sepeda perlahan tapi tetap menawan untuk dilihat, sama seperti geboy seorang biduan dangdut.

Canggu, Bali
Selain untuk touring sepeda United Avalanche ini juga dipakai sebagai sarana transportasi ke tempat kerja, kita sebut saja Bike to work. Awal Tahun 2015, saya berkesempatan untuk kerja di Bali dan sepeda ini pun ikut serta ke sana karena memang di bali sedikit sarana transportasi umum jadi pilihannya pasti jatuh kepada membawa alat transportasi sendiri. Kondisi Bali yang dekat dengan pantai sehingga tanjakan pun sedikit saya temui, cukup mudah untuk bersepeda di sini. Akan tetapi, sedikit orang menggunakan sepeda, masih dianggapnya sebagai sarana transportasi no. 2, tidak praktis dan cape. Jadi saya lebih banyak melihat sepeda digunakan oleh siswa yang pergi sekolah dengan jarak yang tidak jauh.  Cukup menantang juga untuk berkeliling pulau Bali dengan sepeda, akan saya lakukan nanti tapi untuk saat itu, saya terpaksa harus balik dulu ke Bandung karena keadaan kesehatan yang tidak baik. 

Minat dan kesenangan terhadap sepeda semakin menjadi ketika kembali ke Bandung, tentu saja karena di sini gudangnya komunitas sepeda dan bersepeda menjadi trend tersendiri. Bahkan di satu acara Bike 2 Boseh yang diadakan oleh salah satu harian surat kabar, pesertanya bisa mencapai 3000 orang  dari semula yang di prediksikan 2000 orang peserta.

Sepeda Federal itu adalah sebuah racun, dan racun itu ditularkan dengan sangat ampuh dengan mengajak gowes bareng dan mencicil sepeda.  Orang tidak akan sadar kalau dengan mencicil hal yang berat pun terasa mudah. Dan itulah yang dilakukan oleh kang Aan, seorang teman dari komunitas sepeda Federal Cijerah. Dengan baiknya menawarkan untuk saya sebuah Sepeda Federal Wild Cat dengan kondisi mulus dengan harga Rp. 550.000, dan bisa dicicil 2x. Saya pun menerima tawaran itu dan tentu saja, saya sedang beruntung. 

Karena Federal Wild Cat ini masih menggunakan komponen aslinya dengan 6 Speed dan Shifter yang tidak ada nomornya, model lama. Akhirnya saya putuskan untuk memutilasi sepeda United dengan mengalihkan Group set dan Wheel set ke sepeda Federal. Pilihan yang bagus saat itu karena saya belum bisa membangun sepeda Federal dengan komponen yang baru tapi sudah ingin menungganginya. Komponen baru yang diganti adalah Crank dari semula Crank Sakae 48-38-28 diganti dengan Shimano 400CX hiperdrive 42-32-20 juga sadel diganti dengan yang lebih empuk berbahan gel padat dengan Merk DB. 

Tanjakan Mahdi, Bandung
Photo by Bayu Wahyudi
Federal Wild Cat yang dibeli di bulan Agustus 2015 ini memang belum dibawa jauh, masih bermain di dalam kota. Tetapi sudah teruji untuk melintasi tanjakan, salah satunya tanjakan Mahdi, tanjakan curam di utara kota Bandung. Walaupun saat itu ada sesi dorong sepeda tapi hampir sebagian besar rute di tanjakan Mahdi dapat dilalui dengan baik. Begitu pula ketika mengayuh sepeda ke arah Cikole Lembang.

Apapun sepedanya, berapapun harganya tidak akan berarti kalau tidak digowes. 

Memulai petualangan tidak harus mahal. Tapi libatkan keberuntungan, keinginan dan aksi.